The Lion of Jehuda: Indonesia Metal Set - Link Select
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Maret 2012

Kotbah 1 April 2012

TIDAK SEPERTI JEMANI


Bacaan : Markus 11 : 1-11


Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, sekitar tahun 2007 ada sebuah tanaman yang membuat heboh Indonesia. Harganya melejit luar biasa, banyak dicari, hingga banyak orang rela menjual harta yang dimiliki, sekedar untuk memiliki tanaman yang sedang ngentrend tersebut. Tidak hanya itu, ada pula yang rela beralih profesi menjadi pencuri, demi tanaman tersebut. Begitu luar biasa tanaman ini menjiwai masyarakat Indonesia, baik yang berkelas ekonomi social paling bawah sampai konglomerat sekalipun. Ya, jemani atau anturium namanya. Berdaun dua atau tiga, nilainya sudah melebihi harga sebuah HP ketika itu. Berbagai upaya dilakukan, agar tanaman jemani itu tetap hidup dan terawat dengan baik. Bahkan, ada yang dimasukkan ke dalam kamar tidur, karena takut jika tanamannya lenyap. Menurut informasi dari www.royyak.com, tanaman ini termasuk tanaman liar yang tumbuh dan berkembang di hutan. Artinya, sebenarnya tanaman ini dapat di dapatkan di hutan, dan secara gratis, tidak perlu harus merogoh kocek yang banyak. Ada yang bisa membeli sebuah mobil baru, karena menjual 4-5 tanaman jemaninya, wow luar biasa. Tapi apa yang terjadi saat ini, atau lebih tepatnya menjelang tahun 2008, tanaman jemani tidak populer lagi, bahkan kalau perlu dijadikan lalapan. Mau ditaruh di depan rumah, tidak akan ada yang mau mengambilnya, apalagi harus membayar dengan nilai tertentu. Mungkin bagi masyarakat pedesaan, tanaman ini lebih baik buat pakan sapi atau kambing. Tapi begitulah fenomena yang terjadi di tahun 2007, Indonesia heboh karena jemani. Orang gelisah karena jemani, orang tergila-gila karena jemani. Tapi sekarang, jemani tidak ada nilainya, dan tidak ada artinya. Orang akhirnya hanya suam-suam kuku saja.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, fenomena semacam ini, juga terjadi sekitar 2000 tahun yang lalu, di tengah pelayanan Tuhan Yesus. Popularitas Tuhan Yesus luar biasa ketika itu, karena Tuhan Yesus mampu melakukan banyak mujizat, yang mengherankan, dan membuat banyak orang tercengang. Kepopuleran Tuhan Yesus dimaknai sebagai tanda kehadiran Sang Mesias, yang dinubuatkan para nabi sebagai seorang yang akan menyelamatkan bangsa Yahudi dari penindasan. Tuhan Yesus bak tanaman jemani yang dipuja-puja, diagung-agungkan, dan dicari banyak orang. Maka penyambutan rombongan Tuhan Yesus, dilakukan secara luar biasa oleh orang-orang, ketika Tuhan Yesus akan memasuki Yerusalem. Ada yang merelakan bajunya, sebagai alas/karpet bagi kedatangan Sang Raja. Ini menggambarkan kerelaan orang-orang sebagai umat yang setia kepada sang Mesias. Ada pula yang mengambil ranting hijau yang diambilnya dari ladang. Warna hijau menggambarkan, bahwa orang-orang menyambut Tuhan Yesus dengan kegembiraan dan kesuka citaan. Ranting yang diambil dari ladang, menggambarkan bahwa orang-orang memberikan yang terbaik bagi Tuhan Yesus, yaitu dengan memberikan yang masih segar, yang baru, dan yang terbaik. Dan mereka mengikuti arak-arakan dari belakang, sambil bersyukur dan berseru. Ini menggambarkan betapa mereka memuja Tuhan Yesus, sebagai Sang Mesias, dengan setia mengikut dari belakang. Namun apa yang terjadi? Kebanyakan dari mereka hanya suam-suam kuku saja. Ketika Tuhan Yesus diarak, bukan sebagai Sang Mesias, tapi di arak karena difitnah, semua bungkam, dan bahkan ada yang berbalik arah menghujat dan ikut menyiksa Tuhan Yesus, hingga Tuhan Yesus harus menjalani kematian di kayu salib. Penyambutan yang luar biasa tergantikan dengan penyiksaan yang luar biasa, bahkan dianggap Tuhan Yesus tidak ada nilainya, tidak ada artinya, patutnya dihukum mati saja.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, kita sekarang ini memasuki minggu sengsara yang ke enam atau yang disebut dengan minggu palmarum. Minggu sengsara, adalah minggu-minggu kita menghayati kembali kesengsaraan Tuhan Yesus Kristus. Sekarang pertanyaannya kepada kita, apakan kita pun juga suam-suam kuku? Adakah penyambutan tiap saat yang luar biasa dalam hidup kita, atas kedatangan Tuhan Yesus yang membuahkan keselamatan kepada kita? Atau penyambutan itu hanya sekarang serimonial belaka? Misalnya, menyambut kedatangan Tuhan ketika akan Perjamuan saja, ketika mempunyai masalah berat, atau ketika kita baru merasa butuh saja. Mungkinkah kita juga memperlakukan hal sama, seperti halnya tanaman jemani? Atau, mungkinkah ada yang berbalik 180 derajat, menghujat dan menyiksa Tuhan Yesus? Dalam minggu sengsara ini, marilah kita mengoreksi diri, dan kita tanamkan dalam diri kita untuk menyambut Tuhan tiap saat, tiap waktu, bahkan tiap detik. Ada tiga hal yang dapat kita pelajari dari firman Tuhan, mengenai cara penyambutan kehadiran Tuhan Yesus dalam hidup kita.

1. Memberikan baju kita sebagai alas

Kita merelakan hidup kita bagi Tuhan, dengan senantiasa merendahkan hati kita. Dengan kerendahan hati itulah, kita menyambut kedatangan Tuhan Yesus dalam hati dan hidup kita. Mengapa kita perlu merendahkan diri? Karena dengan merendahkan diri, kita telah meneladani Tuhan Yesus yang mau merendahkan diriNya, bahkan rela berkorban bagi hidup kita. Bentuk kerendahan hati terwujud melalui tutur kata kita, melalui sikap kita terhadap orang lain.

2. Memetik tanaman yang masih hijau

Selalu memberikan yang masih segar, yang fresh, yang terbaik bagi Tuhan Yesus. Misalnya, kita memberikan persembahan, ya persembahan yang terbaik bagi Tuhan. Ukuran terbaik itu, bisa kita nilai sendiri, seberapa pantas kita memberikan yang terbaik itu kepada Tuhan Yesus. Contoh lain, totalitas dalam keterlibatan pelayanan Tuhan Yesus, sebagai bentuk kita memberikan yang terbaik. Tidak setengah-setengah atau dengan terpaksa. Kita memegang prinsip, Tuhan Yesus sudah mau melayani dengan yang terbaik, kita pun melayaniNya dengan yang terbaik.

  1. 3. Mengikut dan menyerukan namaNya

Dalam kehidupan kita, apapun kondisi dan situasinya, kita tetap bertekad mengikut Tuhan, bahkan kalau dikatakan, sampai titik darah penghabisan. Apapun tidak ada yang bisa menggantikan posisi Tuhan Yesus dalam hidup kita. Dan senantiasa menyerukan nama Tuhan Yesus dalam hidup kita. Sebagai contoh, orang menawari sesuatu kepada kita, dengan imbalan meninggalkan Tuhan Yesus. Contoh menyerukan namaNya, yaitu dengan bersyukur kepada Tuhan Yesus dalam segala hal. Misalnya mendapat bencana, tetap berkata “Tuhan Yesus pasti memberikan kekuatan kepada saya…..”.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, marilah kita menjadi anak-anak Tuhan Yesus yang taat dan setia, sampai pada akhirnya. Tidak lama lagi Ia akan datang, maka marilah kita mengubah sikap hidup kita, yang tidak berkenan di hadapanNya. Selamat memasuki minggu pra paskah, dan menyiapkan diri memasuki Paskah. Tuhan Yesus memberkati.





Jumat, 23 Maret 2012

Bahan Kotbah 25 Maret 2012


KEMATIAN YANG MEMBAWA KENIKMATAN

Kematian, sangat dekat sekali dengan hidup kita. Dan kematian tidak melihat siapa orangnya, mau ganteng atau kurang ganteng, kaya atau kurang kaya, sehat atau sakit. Orang yang kelihatannya sehat bugar pun, tetap sangat dekat dengan kematian. Berolahraga rutin,agar badan sehat, tetap dengan kematian. Artinya, kematian tidak bisa kita hindari, karena dia sangat dekat dengan kita, dan dapat menimpa kita sewaktu-waktu. Namun apakah selamanya kematian itu menakutkan, mengerikan? Ternyata tidak. Dalam Yohanes 12 khusus ayat 24 ini, Tuhan Yesus memakai gambaran biji gandum,untuk menggambarkan diriNya. Biji gandum itu jika tidak mati, maka tidak akan bermakna, karena hanya dia sendiri yang merasakan buahnya, namun jika biji itu mati, maka banyak orang akan merasakan buahnya. Artinya, dengan kematian Tuhan Yesus, banyak orang boleh merasakan buah kematian Tuhan Yesus, yaitu keselamatan yang sempurna. Kematian Tuhan Yesus membawa kenikmatan bagi manusia. Namun tidak semua manusia, bagi manusia yang mau menerima dan hidup taat kepadaNya yang akan merasakan kenikmatannya. Nah, sekarang tinggal kita, apakah kita mau menerima buah kematian Tuhan Yesus yang membawa kenikmatan atau tidak? Jika jawaban kita “iya” itu mengandung konsekwensi seperti pada ayat 25 dan 26.

· Ayat 25 => tidak mencintaidirinya sendiri, artinya bukan hidup untuk dirinya sendiri. Apa-apa sendiri, makan sendiri, bekerja untuk sendiri, dan lain-lain sendiri,

· Ayat 26 => Mengikut Tuhan dimanapun Dia berad,artinya siap sedia jika Tuhan memanggil kita sebagai pelayanNya. Prinsipnya alasan apapun tidak bisa diterima, karena mengikut Tuhan merupakan syarat utama untuk menikmati buah kematianNya.

Kini di minggu pra paskah 5 ini, kita diingatkan kembali,akan panggilan kita untuk senantiasa menjadi pengikut Tuhan Yesus yang taat dan setia. Mari kita upayakan hidup kita berkenan kepadaNya, selagi waktu masih ada, selagi kematian masih jauh dari kehidupan kita.



Jumat, 09 Maret 2012

Kotbah 11 Maret 2012


MENYATAKAN KASIH ALLAH DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI



Bacaan : Yohanes 2 : 13 -22


Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, ada sebuah cerita nyata demikian, ada seorang pendeta yang akan melakukan pelayanan perjamuan kudus di rumah. Perjamuan kudus rumah ini dilakukan di pepanthan yang jaraknya sangat jauh. Ketika akan menyetater motor, ia melihat jarum bensin menunjukkan huruf E, yang artinya empty atau bensin hampir habis. Mengingat jarak yang agak jauh, pendeta tersebut menyuruh anak asuhnya untuk membeli dua liter bensin. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Sekitar 50 meter. Dengan segera anak asuh tersebut melaju, dengan membawa selembar uang sepuluh ribu rupiah. Hampir 10 menit menjelang, anak asuh tersebut tidak kunjung tiba, maka gelisahlah sang pendeta, karena pelayanan itu harus segera dilakukan, mengingat medan yang sulit dan jarak yang jauh, juga cuaca yang tidak bersahabat, dan teman majelis yang sudah menanti di panthan. Saking gelisahnya, sang pendeta pun mondar-mandir, dan disapa istrinya “ono opo to pak….”. “Iki lo….bocah wadon siji, tuku bensin nang kidul kono…kok suwi tenan….”jawab sang pendeta. “Yo wis to pak….di enteni wae…mbok menawa entek bensin’e…dadine bocah’e golek nggon liyane…”kata istri menghibur. Lima belas menit berlalu, dan akhirnya datangnya si anak asuh. Sontak, terkejut sang pendeta melihat apa yang dibawa si anak asuh di tangannya. Sang pendeta pun menahan amarah, meskipun dalam hatinya sangat jengkel. Dengan nada lirih dan agak takut, si anak asuh berkata “Pak…nyuwun panganpunten….wontenipun namung kalih iket bayem punika…..sanesipun sampun telas….punika susuk’ipun taksih sanga ewu…”. Anak itupun kemudian berlalu.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, sadar atau tidak sadar, kehidupan kita seperti anak asuh di atas. Tidak memperhatikan secara seksama perintah Allah, dan kemudian melakukan sebuah kesalahan fatal, membeli bayam padahal perintahnya bensin, sangat tidak nyambung. Hanya karena kita tidak memperhatikan perintah Allah. Tuhan Yesus secara jelas memberikan perintah kepada kita kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu. Itulah bensinnya, namun yang kita bawa adalah bayam. Pertanyaannya, mengapa kita perlu mengasihi Allah dan sesama? Ini lah yang akan kita hayati dalam minggu sengsara ke tiga saat ini. Tuhan Yesus sudah berkorban, untuk menyatakan kasihNya kepada kita, kasih yang tiada duanya. Nah saatnya kitapun menyatakan kasih kita kepada Allah, dengan melakukan perintahNya dengan benar dan tepat. Bacaan kita saat ini memberikan gambaran yang jelas, bahwa seorang yang dikatakan taat kepada Tuhan, ternyata hanya lamis, karena kepentingan dan keuntungan diri sendiri yang dikejarnya. Bait Allah disulap menjadi pasar. Persengkongkolan antara Imam dan penjual, memberikan keuntungan besar bagi Imam dan tentunya bagi penjual. Padahal Bait Allah merupakan tempat suci, tempat seharusnya umat dan Tuhan bertemu. Mereka membawa bayam kepada Allah, padahal perintahnya bensin. Mereka sibuk mengurusi urusan pribadi, sehingga lupa urusan Allah. Maka inilah yang membuat Tuhan Yesus sangat marah, mengobrak-abrik semua dagangan yang tidak layak di Bait Allah yang suci. Mereka hanya gajah diblangkoni, hanya menyatakan dirinya sebagai orang suci, bukan menyatakan kasih Allah dalam kehidupan mereka. Pertama mereka tidak mengasihi Allah, karena menyulap Bait Allah menjadi pasar, kedua mereka tidak mengasihi sesama, menghalangi umat yang akan bertemu dengan Allah, demi keuntungan mereka sendiri.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, lalu bagaimanakah dengan kita? Sudahkah perintah Allah kita lakukan dan kita nyatakan dengan benar dan tepat dalam hidup kita? Ataukah kita membawa bayam kepada Allah? Mari kita buka mata, telinga dan pikiran rohani kita, untuk serius mendengarkan perintah Allah, dan melakukannya dengan tepat dan benar dalam hidup kita ini. Mata untuk melihat, yaitu melihat kasih Allah yang besar dalam hidup kita. Telinga untuk mendengar kebaikan-kebaikan Allah, dan pikiran untuk mengolah apa yang kita lihat dan kita dengar, untuk kita nyatakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana kita bisa melihat dan mendengar? Ya dengan membaca firmanNya, beribadah, PA, mendengar lagu-lagu pujian. Dan bagaimana kita bisa mengolahnya? Ya dengan saat teduh, saat dimana kita merenungkan semuanya, dan mencari langkah praktis untuk melakukannya. Sebagai contoh, saat ini kita mendengar sabda Allah bahwa kita anak-anakNya diberi perintah untuk mengasihi Dia. Hal ini kita renungkan di rumah, mungkin bisa bersama dengan keluarga ataupun sendiri. Piye ya carane nresnani Gusti Allah. Kemudian kita teringat sabda Tuhan dalam keluaran 20, atau kita teringat untuk melihat 10 perintah Allah yang terpampang di belakang buku kidung BMGJ. O ya…jarene pak pendhita…sing nomer 1-4 ki cara praktis nresnani Gusti Allah, tegese aku ora oleh duwe allah liyane, aku ora oleh nyawiyah, aku ora oleh manembah allah liyane, mung Gusti Yesus sing dak sembah, dudu kuburan, dudu gunung, dudu kali…o yo ngunu to….

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, marilah kita nyatakan kasih Allah dalam kehidupan kita sehari-hari, dengan cara mengasihi Dia dan mengasihi sesama kita, bukan mencari keuntungan sendiri seperti yang dilakukan orang-orang dalam cerita Injil kita saat ini. Mereka hanya mementingkan diri sendiri, hingga menyulap Bait Allah menjadi pasar. Contohnya, jika waktu sudah menunjukkan jam 6.30 atau 17.30 pada hari minggu, segeralah kita untuk mandi dan berdandan, bukannya jam 6.45 atau 17.45 kita baru mandi dan berdandan. Mengapa demikian, dengan kita mandi dan berdandan pada pukul 6.45 atau 17.45, saya jamin, kita pasti terlambat ke gereja. Atau, ketika waktu sudah menunjukkan angka 6.30 atau 17.30, kita masih tidur, atau masih dengan kesibukan kita, yang akhirnya membuat kita lupa waktu, dan akhirnya waktu menujukkan angka 7.15 atau 18.15, maka kita memutuskan untuk, absen tidak ke gereja. Contoh lainnya, misalnya kita bapak-bapak, sudah bosan dengan keadaan di rumah, karena istri seperti burung beo, akhirnya kita memutuskan untuk ke herodes (istilah lain untuk Harlois), saya dengar itu sebagai lokalisasi. Marilah kita nyatakan kasih Allah secara benar dan tepat, dalam kehidupan kita sehari-hari, karena Ia terlebih dahulu menyatakan kasihNya kepada kita secara tepat dan benar.


Jumat, 02 Maret 2012

Bahan Kotbah 04 Maret 2012

PERJALANAN PENDERITAAN

Bacaan : Markus 8 : 31-38

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, ada seorang hamba Tuhan, namanya Fanny J Crosby, mungkin nama yang masih asing dengan kita. Tapi lagu-lagunya luar biasa menggema hingga sekarang ini. Contoh misalnya KJ 392 “Ku Berbahagia” atau KJ 26 “Mampirlah dengan doaku”. Kecintaannya kepada Tuhan Yesus memang luar biasa. Padahal latar belakang hidupnya, tidak seperti penyair atau pencipta lagu pada umumnya. Umumnya, orang yang mampu menciptakan lagu adalah mereka yang mempunyai indera tubuh yang tidak cacat, apalagi indera mata. Padahal Fanny Crosby ini adalah orang yang cacat mata atau buta pada waktu kecilnya. Karena keterbatasan biaya, John dan Mercy Crosby tidak mampu membiayai anaknya Fanny J Crosby ketika mendadak sakit panas. Apalagi dunia media tidak secanggih sekarang ini. Maka pada usia enam minggu, Fanny Crosby resmi mengalami kebutaan yang tidak mungkin tersembuhkan. Di tengah situasi keluarga yang sangat miskin, dan anaknya yang mengalami kebutaan, John dan Mercy Crosby tidak meninggalkan Tuhan, mereka menjadi keluarga Kristen yang taat. Mereka membesarkan Fanny menjadi anak yang mandiri. Keluarga besar Fanny pun sangat sayang kepadanya, meskipun mereka adalah keluarga yang miskin. Mendidik dan menyanyangi Fanny sepenuh hati. Nenek Fanny juga memperkenalkan karya sastra dan puisi, juga setiap hari neneknya membacakan Alkitab, sehingga menumbuhkan kecintaan Fanny kepada Yesus Kristus, hingga pada usia 10 tahun, Fanny sudah dapat menghafal sebagian besar Alkitab. Fanny yang mungil, tidak mengalami sekolah pada umumnya, karena memang belum ada sekolah luar biasa bagi kaum buta. Suatu hari Fanny berlutut bersama neneknya dan berdoa: “Tuhan yang Mahabaik, tunjukkan pada saya bagaimana saya dapat belajar seperti anak-anak lain.” Tak lama kemudian ibunya menyampaikan berita menggembirakan tentang kesempatan untuk masuk ke Institut Bagi Orang Buta di New York. Dalam tahun itu juga, ia menjadi siswi terbaik dan setelah lulus ia menjadi guru di situ. Minat utamanya pada puisi, pada waktu senggang ia menuliskan puisi. Ketika Fanny berumur dua puluh, ia terkenal di New York dan menjadi pembicara yang banyak dicari untuk kutipan-kutipan puisi maupun untuk upacara-upacara resmi. Walaupun populer, ia merasakan ada sesuatu yang kurang pada hidupnya, terjadinya wabah kolera yang hebat pada tahun 1849 menunjukkan padanya apakah itu. Lebih dari separuh siswa-siswi di Institut mati, salah satunya mati di pelukannya. Setelah membantu merawat mereka yang sakit selama beberapa bulan, ia hampir tertular oleh penyakit itu dan ia mengungsi ke luar kota. Kematian teman-teman dekatnya sangat mengguncangkan Fanny. Di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ia belum siap untuk mati. Pada 20 November 1850 ia berlutut di depan mimbar gereja dan memberikan hatinya kepada Yesus. Penulis biografi Basil Miller menceritakan kata-katanya: “Untuk pertama kali saya menyadari bahwa saya telah mencoba memegang dunia di salah satu tangan dan Tuhan di tangan yang lain.”Akhirnya, Tuhan yang diperkenalkan oleh neneknya menjadi nyata baginya. Puisi-puisinya mencerminkan perubahan di hatinya, dan lagu-lagu pujian menggantikan puisi-puisinya. Ketika ia bertemu dengan komponis Kristen William Bradbury pada tahun 1864, segera mereka bersahabat. Bradbury membuat lagu-lagu bagi banyak syair-syair Fanny; walaupun ia bekerja dengan banyak komponis, kerjasama mereka yang paling erat. Fanny biasanya mengarang puluhan lagu di kepalanya sebelum ia mendiktekannya pada sekretarisnya, tetapi bagaimana pun ia mencipta, ia selalu menggunakan cara yang sama. Ia menyebutkan caranya: “Mungkin cara ini kuno, yaitu selalu memulai pekerjaan dengan berdoa, saya tak pernah menuliskan lagu tanpa meminta pada Tuhan untuk menjadi sumber inspirasi saya.” Ia menerima banyak undangan untuk berbicara hingga ia kewalahan, dan orang terkenal seperti Presiden Polk sering memanggilnya. Dengan memiliki banyak teman dan relasi, ia tak pernah merasa kesepian. Pada tahun 1858, Tuhan memberikan padanya seorang yang istimewa dalam kehidupannya, yaitu musisi buta Alexander Van Alstyne. Mereka menikah selama 44 tahun dan mempunyai seorang anak yang meninggal pada waktu bayi. Walaupun pada akhir masa-masa hidupnya, Fanny tetap sibuk seperti biasa, bukan hanya dengan menulis lagu. Ia menaruh perhatian pada mereka yang kurang beruntung, dan ia bekerja sukarela pada pusat pelayanan lokal. Bila ada seseorang yang datang padanya dengan pertanyaan atau keperluan, ia selalu menemuinya secara pribadi dan membagikan padanya terang Firman Allah. Semasa hidupnya, tentang kebutaannya seorang pendeta dengan rasa simpatik bertanya kepadanya, "Saya rasa, sungguh membangkitkan belas kasihan, bahwa Sang Pencipta tidak memberi Anda penglihatan, padahal Ia memberikan banyak sekali karunia lain pada Anda." Dengan tangkas Fanny menjawab, "Tahukah Anda, seandainya pada saat saya lahir saya bisa mengajukan permohonan, saya akan meminta, agar saya dilahirkan buta?" "Mengapa?" tanya pendeta itu terperanjat. "Karena bila saya naik ke surga nanti, wajah pertama yang akan membangkitkan sukacita dalam pandangan saya adalah wajah Sang Juruselamat!" Fanny wafat dengan tenang di rumahnya di Bridgeport, Connecticut, pada 12 Februari 1915. Kerumunan pada saat pemakamannya merupakan bukti pengaruhnya yang luas yang dimilikinya bagi Tuhan. Kata-kata ini berasal dari salah satu lagunya (Saved by Grace) yang menyatakan hal yang paling diharapkannya: “And I shall see Him face to face and tell the story – saved by grace. (Dan aku akan bertemu muka dengan-Nya dan menuturkan kisah - diselamatkan oleh anugerah.)” Kisah hidup Fanny Crosby penuh dengan penderitaan. Ia lahir dari keluarga miskin, menjadi anak yang buta, bahkan harus berhadapan dengan kematian yaitu kolera. Beruntung, ia mempunyai keluarga yang taat, yang senantiasa mengenalkan Yesus, yang mana itulah yang menolong Fanny Crosby bangkit dari apa yang dialaminya.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, jika ditanya, apakah kita mau hidup dalam penderitaan? Tentu kita akan menjawab, TIDAK!!! Ya, memang seringkali manusia menghindari penderitaan yang akan ditempuh dalam hidupnya. Maka berbagai cara akan dilakukan, dan dihalalkan, untuk terhindar dari penderitaan. Dunia pun dengan serta merta menawarkan berbagai upaya dan cara, agar manusia bisa lepas dari penderitaan yang dialaminya. Entah itu baik atau tidak baik, ditawarkan dunia ini. Atau, ketika manusia sudah terjerumus di dalam penderitaan yang dialaminya, dunia pun menawarkan cara-caranya. Jadi sebelum menderita dunia sudah menawarkan, dan ketika kita menderita dunia juga menawarkan cara-caranya, agar manusia segera lepas dari penderitaan secara instan. Kalau boleh memilih, mungkin Fanny Crosby ingin memilih jauh dari penderitaan, mungkin dengan cara bunuh diri, dengan cara minder, atau dengan cara-cara negative lainnya. Kenyataanya, dia tidak lari dari penderitaan, ia tetap pada hidup yang sudah digariskan Tuhan, yaitu hidup bagi kemuliaan nama Tuhan. Karena melalui hidup Fanny inilah, banyak orang disegarkan imannya, melalui lagu-lagu ciptaannya yang luar biasa, menggugah dan menyentuh iman.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, apa yang dialami Fanny J. Crosby, tidak jauh dengan apa yang dialami Tuhan Yesus Kristus. Sejak lahir pun, Tuhan Yesus sudah mengalami penderitaan, karena dikejar-kejar oleh Herodes. penderitaanNya berpuncak ketika ia wafat, dan itu merupakan penderitaan yang ngeri. Apakah Tuhan Yesus tidak berkuasa untuk lari dari penderitaan? Tentu Ia berkuasa atasnya. Namun Tuhan Yesus tidak memilih jalan menghindar dari penderitaan, tapi Ia tetap menjalani penderitaan hidupNya, demi menjadi kurban bagi manusia. Petrus sudah mengingatkan Tuhan Yesus, untuk menjauhi penderitaan (ayat 32), namun Tuhan Yesus tetap dengan keputusanNya, malahan memarahi Petrus karena ajakan Petrus untuk lari dari penderitaan (ayat 33). Dan karena penderitaanNya itulah, hidup manusia terbarukan. Sepenggal penderitaan yang kita alami, mungkin tidak sebanding dengan apa yang dialami Tuhan Yesus Kristus. Itulah juga yang dihayati oleh Fanny J. Crosby. Karena Tuhan Yesus sudah menderita bagi manusia, maka sepatutnyalah manusia hidup dalam perjuangan-perjuangan yang seperti dilakukan Tuhan Yesus, dimana perjuangan hidup bisa membuat manusia menderita. Fanny J. Crosby menjadi contoh nyata hamba Tuhan yang berjuang di dalam penderitaan, bukannya menghindar dari penderitaan yang dialaminya.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, lalu bagaimanakah dengan kita anak-anak Tuhan? Sanggupkah kita hidup dalam perjuangan ini, yang penuh dengan penderitaan? Atau kita tergiur dengan ajakan untuk menghindar dari penderitaan kita sebagai pengikut Kristus? Tuhan Yesus mengingatkan kita pada ayat 34-38, secara khusus Ia menegaskan, bahwa “setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut AkuI”. Mengikut Tuhan Yesus artinya harus berani memanggul salib. Salib itu adalah symbol penderitaan. Artinya, mengikut Tuhan Yesus harus siap hidup dalam penderitaan. Mungkin kita bisa dikatakan “gila” karena mengikut Tuhan, karena itulah konsenkwensinya. Paulus mengingatkan dalam Roma 12 : 2, agar kita tidak serupa dengan dunia ini. Itulah upaya meminggul salib, tidak serupa dengan dunia. Lalu seperti apakah dunia ini? Dunia menawarkan hal-hal yang indah dan menarik untuk dilakukan, sebagai upaya untuk lari dari penderitaan, tidak memikul salib kita, seperti halnya perselingkuhan, kemarahan, dengki, dendam, korupsi, percabulan, mabuk dan pesta pora, narkoba, kata-kata kotor, dan lain sebagainya. Masih banyak lagi.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, maukah kita memanggul salib kita? Maukah kita hidup menderita bagi Tuhan Yesus? Marilah kita hidup dengan Roh Tuhan yang ada pada kita, seperti halnya kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Kita upayakan hidup dekat dengan Tuhan, dengan senantiasa beribadah kepada Dia, apapun dan bagaimanapun rintangannya, kita senantiasa mengucapkan syukur dengan memberikan persembahan yang layak bagiNya, dan senantiasa mengenalkan Injil kepada keluarga kita,, seperti halnya keluarga Fanny, juga kepada orang yang belum mengenalnya. Inilah tugas panggilan kita, untuk hidup dalam perjalanan penderitaan. Dia sudah menderita bagi kita, saatnya kita menderita bagiNya, dengan memikul salib kita sendiri. Tuhan Yesus memberkati.


Wiladeg, 02 Maret 2012


Selasa, 07 Februari 2012

Bahan Kotbah 12 Februari 2012





















Menjaga Kesucian Hidup

(Hidup yang sudah ditahirkan Tuhan)



Bacaan : Markus 1 : 40-45

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, apakah yang kita rasakan jika ada jerawat di wajah kita? Bagi remaja tentu ini menjadi masalah yang cukup berarti, karena bisa mengganggu "daya tarik"nya. Maka tak elak, banyak remaja yang stress dan bingung, ketika tumbuh jerawat, yang bisa menjadikan wajah buruk. Karena jerawat menghilangkan pesona di wajah. Maka banyak pula produk-produk yang menawarkan obat mujarab untuk membasmi jerawat, untuk menghilangkannya dari wajah. Tidak hanya obat untuk menghilangkan jerawat saja, ada pula produk yang menawarkan perawatan kulit, agar tidak tumbuh lagi jerawat di wajah, yang mengganggu pesona itu.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, itu baru jerawat, suatu hal yang bisa dikatakan kecil. Lalu bagaimana dengan orang kusta/lepra yang dialami dalam cerita Injil Markus 1 tersebut? Bisa jadi tidak hanya stress atau bingung saja, namun bisa menjadi gila. Karena menurut kamus Alkitab, penyakit kusta/lepra ini merupakan penyakit najis yang harus di hindari. Baik dalam Perjanjian Baru maupun Perjanjian Lama, seringkali mengisahkan tentang kenajisan penyakit ini. Mengapa dikatakan najis, karena penyakit kusta/lepra ini tidak dapat disembuhkan, bahkan menular, dan yang lebih parah lagi, penyakit ini berujung pada kematian. Sehingga menurut kepercayaan orang Yahudi, penyakit kusta/lepra ini merupakan penyakit kutukan dari Tuhan karena dosa besar yang dilakukannya, maka orang-orang yang berpenyakit kusta/lepra harus dijauhi, bahkan diasingkan dan dihindari. Salah contohnya, kita ingat cerita Ayub yang tiba-tiba mempunyai penyakit parah yaitu borok, sehingga ia kemudian dihindari banyak orang. Beruntung, dalam kisah Injil Markus, orang kusta itu bertemu Tuhan Yesus, satu-satunya penyembuh penyakit kusta, karena sepertinya tidak ada obat yang mampu menyembuhkan penyakit kusta yang dialaminya. Tuhan Yesus mentahirkan orang kusta dengan kuasaNya. Kata "tahir" disini berarti menjadikan suci. Tuhan Yesus tidak hanya menjadikan suci tubuh orang kusta itu, sembuh dari penyakit jasmaninya, namun Tuhan Yesus juga menjadikan suci kerohaniannya, dengan beriman penuh kepada Tuhan Yesus sebagai penyembuh hidupnya. Tidak hanya itu, Tuhan Yesus pun memulihkan status sosial orang kusta itu. Jadi kuncinya, dengan iman penuh kepada Tuhan Yesus, orang kusta itu mengalami pentahiran atas penyakit kustanya.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, sebenarnya ada yang lebih membuat manusia stress bahkan menjadi super gila, lebih dari penyakit kusta, karena masa kini, penyakit kusta dapat disembuhkan dengan upaya medis. Namun ada satu penyakit yang tidak dapat disembuhkan, tidak ada obatnya, penyakit itu adalah dosa. Seperti Rasul Paulus katakan, ujung dosa adalah maut. Penyakit ini berujung pada kematian kekal, bukan kematiaan sesaat, penyakit ini berujung pada penderitaan abadi, bukan hanya menderita sesaat, pokoknya penyakit ini mengerikan. Rumah sakit sehebat dengan alat lengkap apapun, atau gereja setenar dan sehebat apapun, tidak dapat menyembuhkan penyakit satu ini, dosa. Beruntung, bagi kita umat percaya, Tuhan Yesus lah yang menyembuhkannya, mentahirkannya. Melalui pengurbanan darah dan dagingNya, kita ditahirkan dari dosa-dosa, penyakit yang mengerikan itu. Kita dijadikan suci seputih salju, dan status hidup kita dipulihkan yaitu menjadi anak-anakNya. Pentahiran yang dari Tuhan Yesus, mengembalikan kodrat kita, yang segambar dan serupa dengan Tuhan Allah. Maka kini, kita tidak perlu stress dan menjadi super gila, Tuhan Yesus menyediakan obat mujarab atas penyakit mengerikan ini, dosa, dengan kita percaya dan menyerahkan hidup kita bagi Tuhan Yesus.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, namun perlu kita ingat, kita bisa menjadi tidak tahir lagi, jika hidup kita tidak kita jaga. Bak ibarat pakaian, kita kini sudah dikenakan pakaian putih, namun pakaian itu dapat menjadi kotor jika tidak menjaga baik-baik pakaian kita yang bewarna putih itu. Seperti halnya jerawat yang dapat tumbuh kembali, jika tidak rajin merawat dan menghindari makanan yang dapat menimbulkan jerawat, seperti menghindari makanan berlemak atau kacang tanah misalnya. Maka dari itu, kita perlu menjaga dan merawat tubuh rohani yang sudah ditahirkan Tuhan Yesus dalam peristiwa baptis yang sudah kita terima, dan kita pun perlu menghindari makanan yang dapat merusak tubuh rohani kita ini. Lalu bagaimana caranya? Banyak cara yang kita tempuh agar tubuh rohani kita tetap dalam kesucian.

  1. Beribadah. Mari kita tengok, dalam tahun 2012 yang baru saja berjalan, sudah berapa kali kita "bolong" beribadah? Ya mungkin alasan ini dan itu dapat kita kemukakan. Tapi Tuhan lihat kejujuran hati kita. Contoh, mungkin kita katakan, kita sakit, kenyataanya hanya sakit flu biasa. Manusia bisa dibohongi, namun Tuhan tidak bisa.
  2. Pemahaman Alkitab. Makanan rohani kita sumbernya adalah Alkitab. Maka kita perlu terus memahami apa yang menjadi kehendak Tuhan, yang tertuang dalam Alkitab. Saat teduh harus bisa menjadi bagian hidup kita, begitu pula Persekutuan menjadi kebutuhan pokok kita.
  3. Berdoa. Orang katakan, doa adalah nafas hidup orang beriman. Jika memang kita beriman kepada Tuhan Yesus, maka Ia harus sering diajak "ngobrol" dalam doa. Doa bukan sekedar rutinitas belaka.
  4. Menjaga kekudusan diri. Kita jauhi perselingkuhan, memang perselingkuhan adalah trend dunia, tapi tidak bagi dan memang katakan tidak bagi kita orang percaya. Perselingkuhan bisa diawali dari masa pacaran, jika sudah tidak setia dengan pacar, bagaimana mau setia dengan istri/suami? Pokoknya buang jauh-jauh makanan perusak kerohanian kita ini. Juga buang jauh-jauh sex bebas dan narkoba, yang juga menjadi trend dunia, karena itu bukan gaya hidup orang percaya. Tidak hanya itu, korupsi pun bukan gaya hidup orang beriman.
  5. Matikan dendam, amarah, dengki, iri, dan perasaan negatif lainnya, karena itu akan merusah perlahan-lahan tubuh rohani kita, dan menjadi tidak tahir kembali.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, sekali lagi kita sudah tahir. Marilah kita jaga tubuh rohani kita ini, hingga Tuhan Yesus datang kedua kali, bukan untuk menghukum kita, namun menjemput kita, masuk bersama-sama dalam rumahNya, dalam kekekalan dan kehidupan abadi bersama dengan Tuhan Yesus. Kini waktunya kita untuk berubah, berubah menjadi orang percaya yang berkualitas Kristiani, bukan orang percaya yang berkualitas duniawi. Tuhan memberkati.



 
ans!!